Minggu, 06 Desember 2015

Merajut Toleransi Di Tengah Perbedaan



Manusia adalah makhluk sosial yang hidup dan diciptakan Allah Swt dalam keragaman. Baik dalam ragam budaya, suku, bangsa, agama dan negara. Beragamnya kenyataan yang ada, beragam pula cara menyikapinya. Pendidikan merupakan faktor penting membentuk watak manusia dalam menyikapi kehidupan dalam keragaman itu.


Pendidikan pun beragam. Ada yang formal, ada non formal. Ada yang melalui guru, orang tua, teman, bahkan juga buku-buku bacaan. Apapun medianya, sebutlah itu semua adalah ‘guru’ untuk mempermudah pemahaman. ‘Guru’ yang kemudian kita teladani itu, akan mengantar kita kemana, dan bagaimana kita menyikapi hidup, bersosialisasi di tengah masyarakat dan menghadapi dunia nyata yang beragam itu. Dalam praktiknya, kita akan bertindak dan menjadi seperti apa, tergantung pada apa dan siapa yang kita teladani.




Beragamnya perbedaan itu pun kemudian mendorong manusia berebut pengaruh dan kepentingan. Sudut pandang dan beragam pemikiran yang berbeda itu kemudian ‘ditelurkan’ melalui ceramah-ceramah, nasihat, tulisan-tulisan yang kemudian juga dibukukan. Tak heran jika seringkali ditemui pandangan yang berbeda-beda dalam menyikapi satu hal yang sama, bahkan tak jarang pula saling berbenturan antara satu dengan yang lainnya.


Kita ambil contoh misalnya di pameran buku Islamic Book Fair (IBF) yang diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta awal bulan Maret ini. Tak sulit Anda menemukan setumpuk buku-buku ‘kontroversi’ seperti buku-buku kesesatan Syiah, penyimpangan Syiah, dan sejenisnya.





Di sisi lain, ada juga buku yang menjelaskan tentang Syiah dari sudut pandang yang berbeda.


Kita tahu, efek dari menyesatkan Syiah telah terbukti menumpahkan darah. Sebut saja misalnya warga Syiah di Sampang Madura. Fatwa sesat dari sekelompok orang yang mengaku Islam, telah terbukti memakan korban. Apakah mereka, melalui pandangan yang ‘ditelurkan’ melalui buku-buku itu ingin memperluas pertumpahan darah yang sudah terjadi? Padahal faktanya, ulama dunia sudah sepakat untuk tidak saling mengkafirkan dan menyesatkan satu sama lain di antara sesama kelompok Islam yang di dalamnya ada Muslim Sunni dan Syiah.


Kesepakatan tersebut bisa dilihat salah satunya dalam Risalah Amman Yordania (Risalah Amman Yordania). Tokoh-tokoh Islam dunia sepakat akan hal itu. Di negara Iran misalnya, yang mayoritas penduduknya adalah Muslim Syiah dapat menjadi negara yang mencapai kemajuan teknologi sangat tinggi dan menjunjung tinggi toleransi. Hubungan sosial Sunni-Syiah sangat dijaga dengan baik di sana. Bukan hal mustahil di Indonesia yang mayoritas Muslim Sunni dapat menerapkan hal yang sama demi ukhuwah Islamiyah dan keutuhan bangsa.


Di dalam visi-misi IBF sendiri yang kemudian tertuang dalam lagu (yang bisa Anda dengarkan saat berkunjung ke sana atau bisa juga melalui web resmi IBF) sangat menekankan nilai-nilai toleransi:


“…bersama satukan tujuan, jalin indahnya silaturahmi, jaga indahnya toleransi, bersama satukan tujuan, teguhkan dinding perbedaan.”


Sebuah lirik lagu yang menyejukkan hati dan memotivasi persatuan tentunya. Tapi sayang dalam praktiknya, justru di acara yang diselenggarakannya sendiri, IBF terlihat berseberangan dengan misi mulia yang diusungnya.





Tidak sulit juga bagi Anda untuk menemukan maraknya suasana ‘pasar khilafah’ di sana. Para pengusung khilafah yang selama ini kerap dikenal anti Pancasila, mengharamkan hormat bendera, dan menolak demokrasi ini tampak leluasa memasarkan atribut-atribut bertuliskan jihad. Anak-anak yang masih mengenakan seragam sekolah pun terlihat antusias dan membeli produk-produk itu. Bagaimana jadinya kalau paham anti Pancasila, dan anti demokrasi ini berkembang di Negara Kesatuan Republik Indonesia?


Jika benar IBF ini memiliki visi dan misi seperti di atas, selayaknya ajang itu menyeleksi mana yang kiranya berpengaruh negatif bagi perkembangan bangsa Indonesia agar tidak begitu saja diijinkan turut serta menjual produk-produknya di sana. Sebab akan menjadi pertanyaan, bagaimana jadinya manakala generasi muda bangsa Indonesia ini membaca buku-buku dan pemikiran yang mengarahkan mereka pada faham radikal, anti toleransi dan memaksakan kehendak dengan mengabaikan hak kelompok lain yang berbeda, padahal faktanya, kita berada dalam kehidupan sosial yang plural dan beragam ini?


Terlebih lagi, bukankah Allah Swt menciptakan semua makhluk-Nya dalam keadaan yang berbeda-beda agar mereka saling mengenal, dan saling memahami satu sama lainnya? (Malik/Yudhi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentar....